Asal-usul kata pulsa pada ponsel

cellphone

Pagi ini sebelum mandi sempat terpikir bagaimana sebenarnya asal usul kata ‘pulsa’ pada ponsel. Hari ini pulsa pada ponsel berarti saldo yang bisa digunakan untuk telepon, sms, maupun streaming data. Menurut KBBI, salah satu arti kata pulsa adalah satuan dalam perhitungan biaya telepon. Pulsa, yang berasal dari bahasa Inggris pulse, memiliki arti asli: denyut atau detak.

Kalau ditanya ‘Kamu punya pulsa ngga?’, dalam sepersekian detik kita bisa langsung mengerti maksudnya. Tapi kalau pertanyaan yang sama diterjemahkan dalam bahasa Inggris ‘Do you have pulses?’, kita membutuhkan beberapa waktu untuk mengerti maksudnya. Yang terjadi dalam pikiran saya kira-kira begini:

“Hah? Dia tanya apakah saya punya denyutan? Apakah saya masih hidup? Tidak masuk akal. Pasti bukan itu maksudnya. Hmmmm, apalagi ya arti pulse yang lain nya? Oh mungkin maksudnya apakah saya punya pulsa untuk telepon. Tapi saya masih perlu bertanya balik untuk konfirmasi apakah benar maksudnya seperti itu.”

Pertanyaan di atas dijamin tidak akan dimengerti oleh orang selain orang Indonesia. Mengapa? Karena makna pulsa telah bergeser sedemikian jauh dari arti dasarnya sampai tidak ada hubungan nya lagi: dari denyut menjadi satuan biaya telepon. Lalu bagaimana perubahan ini terjadi?

Dulu zaman belum ada ponsel, dan di rumah saya belum ada sambungan telepon, malam-malam di atas jam 9 saya sering ikut ibu ke wartel di Nanga Pinoh untuk menelepon tante saya di Pontianak. Saya perhatikan display total biaya telepon nya akan bertambah setiap beberapa detik tertentu. Misalnya tiap 20 detik akan bertambah Rp.1.000,-. Interval ini berbeda-beda untuk setiap kota tujuan. Kalau tidak salah ingat (tercantum dalam struk), tiap interval inilah yang disebut pulsa. Jadi total biaya telepon adalah jumlah pulsa dikali dengan biaya per pulsa.

Ketika awal-awal ponsel GSM mulai populer, untuk menelepon dengan kartu prabayar kita harus mengisi ‘pulsa’ menggunakan voucher fisik yang digosok. Seingat saya, pulsa yang diisikan adalah dalam satuan rupiah. Mungkin karena waktu itu belum ada kata yang bisa dipakai untuk merujuk ke arti saldo telepon tersebut, jadi paling mudah dipakailah kata ‘pulsa’ yang sudah ada. Walaupun agak-agak kurang nyambung juga sih 🙂

Saya tidak tau apakah pernah pada awalnya pengisian pulsa tersebut dihitung literally dalam satuan pulsa (seperti halnya menelepon di wartel), dan bukan rupiah. Kalau betul begitu, maka sangat bisa dipahami mengapa kata pulsa terbawa sampai sekarang.

Entahlah kebenarannya. Begitulah kira-kira yang terpikir tadi pagi sebelum mandi 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s