Scan and remove viruses using Clamav in Ubuntu

Recently my USB drive got infected. The virus duplicates existing files, but with an .exe extension. All of them are of 411,something kB in size. Later, this is scanned and identified as Trojan virus.

A short googling shows that clamav is a popular antivirus in Ubuntu, Linux in general. Without further ado, I then proceed to sudo apt-install clamav. The version 0.99 is installed. Before scanning, first we need to update the virus databases. The sudo freschclam command,  which is used to accomplish the job, doesn’t work. Maybe I haven’t tried hard enough. But some people suggest that it might be due to old version problem. So then I decide to uninstall clamav 0.99, and reinstall to the new version 0.100.0.

This time I install the clamav from the sources. I am fully aware that is not the only way to get clamav working nor a comprehensive and thorough tutorial. But here I am just showing the steps I have taken which leads me to a success. Oh btw, my OS is Ubuntu 16.04.

  1. sudo apt-get remove clamav (uninstall the existing clamav)
  2. sudo apt-get autoremove (uninstall dependencies, just to make sure they don’t mix up with the new version and cause problems)
  3. Download the source from https://www.clamav.net/downloads/production/clamav-0.100.0.tar.gz. This is version 0.100.0.
  4. Then go to the containing directory, and unzip it.
  5. ./configure (for checking dependencies and prepare some other stuff before compilation). Fail at this stage due to missing openssl library
  6. sudo apt-get install libssl-dev
  7. ./configure (again)
  8. sudo make (building the executable from sources. Might take some time to finish)
  9. sudo make install (installing all the files built from previous step to the appropriate directories)
  10. sudo freshclam (to download the virus databases). But fail at this stage because unable to parse the freshclam.conf. Actually it does not exist yet, but the example configuration file is provided.
  11. cd /usr/local/etc/ (go to the directory containing example conf file)
  12. sudo cp freshclam.conf.sample freshclam.conf
  13. sudo nano freshclam.conf (edit the file)
  14. Comment out the word ‘Example’ and save it
    # Comment or remove the line below.
    #Example
  15. sudo freshclam (again. it works now. take some time to download the databases)
  16. sudo clamscan -r -i –move=/home/yoppy/virus /media/yoppy/USB-drive-path
    -r is for recursive scanning. -i for showing detected scan only. Now we are ready to scan dan move the virus to another folder. And, delete it afterward. We can also delete the virus immediately with –remove option

clamscan virus detected

 

Advertisements

Asal-usul kata pulsa pada ponsel

cellphone

Pagi ini sebelum mandi sempat terpikir bagaimana sebenarnya asal usul kata ‘pulsa’ pada ponsel. Hari ini pulsa pada ponsel berarti saldo yang bisa digunakan untuk telepon, sms, maupun streaming data. Menurut KBBI, salah satu arti kata pulsa adalah satuan dalam perhitungan biaya telepon. Pulsa, yang berasal dari bahasa Inggris pulse, memiliki arti asli: denyut atau detak.

Kalau ditanya ‘Kamu punya pulsa ngga?’, dalam sepersekian detik kita bisa langsung mengerti maksudnya. Tapi kalau pertanyaan yang sama diterjemahkan dalam bahasa Inggris ‘Do you have pulses?’, kita membutuhkan beberapa waktu untuk mengerti maksudnya. Yang terjadi dalam pikiran saya kira-kira begini:

“Hah? Dia tanya apakah saya punya denyutan? Apakah saya masih hidup? Tidak masuk akal. Pasti bukan itu maksudnya. Hmmmm, apalagi ya arti pulse yang lain nya? Oh mungkin maksudnya apakah saya punya pulsa untuk telepon. Tapi saya masih perlu bertanya balik untuk konfirmasi apakah benar maksudnya seperti itu.”

Pertanyaan di atas dijamin tidak akan dimengerti oleh orang selain orang Indonesia. Mengapa? Karena makna pulsa telah bergeser sedemikian jauh dari arti dasarnya sampai tidak ada hubungan nya lagi: dari denyut menjadi satuan biaya telepon. Lalu bagaimana perubahan ini terjadi?

Dulu zaman belum ada ponsel, dan di rumah saya belum ada sambungan telepon, malam-malam di atas jam 9 saya sering ikut ibu ke wartel di Nanga Pinoh untuk menelepon tante saya di Pontianak. Saya perhatikan display total biaya telepon nya akan bertambah setiap beberapa detik tertentu. Misalnya tiap 20 detik akan bertambah Rp.1.000,-. Interval ini berbeda-beda untuk setiap kota tujuan. Kalau tidak salah ingat (tercantum dalam struk), tiap interval inilah yang disebut pulsa. Jadi total biaya telepon adalah jumlah pulsa dikali dengan biaya per pulsa.

Ketika awal-awal ponsel GSM mulai populer, untuk menelepon dengan kartu prabayar kita harus mengisi ‘pulsa’ menggunakan voucher fisik yang digosok. Seingat saya, pulsa yang diisikan adalah dalam satuan rupiah. Mungkin karena waktu itu belum ada kata yang bisa dipakai untuk merujuk ke arti saldo telepon tersebut, jadi paling mudah dipakailah kata ‘pulsa’ yang sudah ada. Walaupun agak-agak kurang nyambung juga sih 🙂

Saya tidak tau apakah pernah pada awalnya pengisian pulsa tersebut dihitung literally dalam satuan pulsa (seperti halnya menelepon di wartel), dan bukan rupiah. Kalau betul begitu, maka sangat bisa dipahami mengapa kata pulsa terbawa sampai sekarang.

Entahlah kebenarannya. Begitulah kira-kira yang terpikir tadi pagi sebelum mandi 

Pengalaman menggunakan Modul WiFi NodeMcu ESP8266

Ceritanya saya mau membuat sebuah prototipe lampu yang bisa dikendalikan secara wireless menggunakan handphone atau laptop. Rencananya akan ada kurang lebih 10 titik/node lampu. Masing-masing node berjarak +/- 20 meter sehingga membentuk garis lurus sepanjang 200 meter. Antar node tidak ada line of sight karena ada halangan berupa logam. Teknologi wireless yang digunakan haruslah secure, setidaknya mendukung otentikasi password. Dan yang paling penting, saya ingin membentuk jaringan wireless tersebut dalam topologi mesh network, yaitu tiap node berfungsi sebagai repeater yang meneruskan data ke node tetangga terdekatnya. Kenapa tidak gunakan saja sebuah transmitter daya besar yang bisa mennjangkau hingga node terjauh (200 meter)? Tidak, karena ada batasan daya transmisi yang diizinkan regulasi, dan hampir pasti (belum menemukan referensi) jangkauan sejauh itu membutuhkan daya yang melebihi limit, atau membutuhkan izin khusus.

Beberapa solusi wireless saya coba bandingkan, yaitu Zigbee, Bluetooh Low Energy (BLE) dan Bluetooh. Dari segi jangkauan, Zigbee memang mumpuni. Tapi dari kunjungan ke toko-toko online saya dapati bahwa modul Zigbee sangat mahal dan tidak banyak tersedia. Sedangkan, modul BLE dan Bluetooth jauh lebih murah harganya dan lebih mudah didapatkan. Tapi kemampuan jangkauannya di ambang batas spesifikasi yang saya tentukan di awal. Beberapa sumber mengatakan jangkauan Bluetooth hanya 10 meter, sedangkan sumber lainnya menyebutkan jarak 20 m bukanlah masalah. Memang soal jangkauan sangat tergantung dari kondisi lingkungan, apakah banyak halangan atau tidak, apakah halangan nya berupa logam, tembok beton, dsb. Dan memang dalam datasheet modul wireless kita biasanya tidak menemukan pernyataan bahwa jangkauan nya adalah sekian meter *. Parameter terukur yang bisa didapatkan dalam datasheet di antaranya adalah daya transmisi dan sensitivitas receiver. Salah satu pilihan saya awalnya jatuh pada modul Bluetooth nRF51. Modul ini memiliki daya transmisi 4 dBm. Untuk mengetahui apakah modul tersebut bisa menjangkau 20 meter, saya putuskan untuk mencobanya. Namun sesaat sebelum saya memesan modul ini di toko online, saya sempat chatting dengan Bondan Suwandi. Singkat cerita dia menyarankan untuk menggunakan modul WiFi ESP8266.

Tidak perlu waktu lama untuk googling, ternyata modul ESP8266 ini begitu menawan dan langsung mengubah keputusan saya :). Kenapa? Karena modul WiFi ini ternyata lebih murah daripada Bluetooth. Selain itu daya transmisi nya bisa mencapai 20 dBm (kalau tidak salah ini batas maksimal yang diizinkan regulasi di Indonesia), bandingkan dengan modul Bluetooth nRF51 yang hanya 4 dBm. Di Youtube, ada yang pernah mencoba jarak jangkauan ESP8266 ini di area terbuka dengan adanya line of sight. Hasilnya mengejutkan, bisa mencapai 500-1000 meter. Karena modul WiFi beroperasi pada frekuensi UHF 2.4 Ghz, tentu saja jika dalam ruangan yang dibatasi tembok atau terlindung logam, jangkauan nya akan menurun jauh. Selain itu, saya mendapati bahwa komunitas pengguna ESP8266 ini cukup banyak dan akif. Dan ternyata ada yang sudah mengimplementasikan mesh network di ESP8266. Persis seperti yang saya inginkan. Saya coba rangkumkan fitur-fitur ESP8266 yang tertulis dalam datasheet nya di sini:

  • Mendukung protocol WiFi IEEE 802.11 b/g/n, dengan otentikasi password WPA/WPA2
  • Terintegrasi low power 32-bit MCU (Tensilica)
  • Terintegrasi 10-bit ADC
  • Terintegrasi TCP/IP protocol stack
  • Terintegrasi TR switch, balun, LNA, power amplifier and matching network
  • Terintegrasi PLL, regulators, and power management units
  • SDIO 2.0, (H) SPI, UART, I2C, I2S, IR Remote Control, PWM, GPIO
  • Deep sleep power <10uA, Power down leakage current < 5uA
  • Konsumsi daya standby < 1.0mW
  • Daya transmisi +20 dBm dalam mode 802.11b
  • Mendukung mode Station (STA), Access Point (AP), dan STA+AP
  • Tersertifikasi FCC, CE, TELEC, WiFi Alliance, dan SRRC

block diagram ESP8266

ESP8266 mendukung mode STA+AP, yaitu berfungsi sebagai Station dan Access Point sekaligus. Fitur ini memungkinkan ESP8266 diprogram membentuk mesh network. Sebuah node bisa berfungsi sebagai Station yang terkoneksi ke node Access Point, dan sekaligus berfungsi sebagai Access Point bagi node Station lainnya. Namun perlu diperhatikan bahwa mode STA dan AP menggunakan jalur hardware yang sama sehingga ada beberapa kasus yang bisa membuat koneksi menjadi putus, seperti yang dijelaskan di sini:

Kasus 1:

  1. Station ESP8266 terkoneksi ke sebuah router (misalnya channel 6)
  2. Kemudian setting parameter AP ESP8266 melalui fungsi wifi_softap_set_config(), misalnya set ke channel 3
  3. Fungsi tersebut mungkin akan return true, tapi sebenarnya channel tetap di 6, karena hanya ada satu jalur hardware yang sudah diset di langkah 1

Kasus 2:

  1. Setting channel AP ESP8266 x, misal channel 5, melalui fungsi wifi_softap_set_config()
  2. Kemudian ada beberapa Station yang terkoneksi ke AP ESP8266 x tersebut
  3. Kemudian Station ESP8266 x mencoba melakukan koneksi ke router yang memiliki channel yang berbeda (misal channel 6)
  4. AP ESP8266 x harus mengubah channel nya menjadi sama dengan Station ESP8266 x, yaitu channel 6
  5. Akibatnya station-station yang terkoneksi ke AP ESP8266 x pada langkah 2 akan disconnected karena telah terjadi perubahan channel

Kasus 3:

  1. Beberapa station terkoneksi ke AP ESP8266 x
  2. Jika kemudian Station ESP8266 x mencoba melakukan scanning channel untuk mencari router,  station-station yang terkoneksi pada langkah 1 mungkin akan disconnected. Sebabnya, Station ESP8266 x yang terus mengubah channel mengakibatkan channel AP ESP8266 x ikut berubah.

VARIAN MODUL DAN CARA PENGGUNAAN ESP8266

Ada banyak varian modul ESP8266 yang beredar saat ini, yaitu:

  • Tanpa USB to serial converter: ESP01, ESP02, hingga ESP14 (lebih detail lihat di sini)
  • Dengan USB to serial converter: NodeMCU, ESPToy

alltheesps

Sumber Gambar: sini.

Saya sudah mencoba ESP01 dan NodeMCU. Untuk memprogram ESP01 dari port USB kita perlu menambahkan USB to Serial converter. Kita bisa gunakan FTDI, CH340, atau board Arduino Uno. Tapi entah kenapa modul ESP-01 ini susah sekali diprogram, sering kali gagal nge-flash. Padahal saya sudah coba beberapa saran seperti menambahkan resistor pada pin-pin tertentu (lupa persisnya) dan menggunakan power supply external yang mampu supply arus hingga 1 ampere. Tetap saja, flashing-nya sering gagal. Adakah yang punya pengalaman yang sama? Bagaimana cara mengatasinya?

Modul NodeMCU merupakan modul ESP-12 yang sudah dilengkapi dengaan CH340 USB to Serial Converter. Pengalaman saya menggunakan modul NodeMcu berjalan mulus, tidak ada masalah dalam flashing. Ada beberapa cara untuk menggunakan ESP8266, yaitu:

  1. Lua. Merupakan bahasa scripting yang kecil dan ringan untuk aplikasi embedded systems. Tentu saja untuk menggunakan Lua, ESP8266 harus diprogram firmware interpreter Lua. Panduannya bisa dilihat di sini. Metode ini cukup mudah digunakan.
  2. AT command. Untuk menggunakan AT command, install firmware AT command seperti dalam tutorial ini. Metode ini juga mudah digunakan. Namun tidak semua kemampuan ESP8266 bisa dieksplor
  3. C++ dengan Arduino IDE. Metode ini menggunakan Arduino IDE yang sudah cukup familiar bagi pegiat elektronika. Yang perlu dilakukan adalah mengunduh library ESP8266, seperti dalam panduan ini. Ada cukup banyak contoh-contoh aplikasi yang disertakan dalam library tersebut. Metode ini memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi daripada AT command, tapi kita punya kebebasan untuk customize operasi dan fungsi ESP8266. Dan metode ini yang saya gunakan untuk membuat prototipe kendali lampu secara wireless dalam mesh network.
  4. SDK ESP8266. Metode ini memiliki tingkat kesulitan paling tinggi, tapi kita punya kebebasan seluas-luasnya untuk memprogram ESP8266. Salah satu panduan untuk memulai menggunakan SDK ESP8266 bisa dilihat di sini.
  5. PlatformIO. Ini juga menggunakan bahasa C dan library seperti pada Arduino IDE, namun dengan IDE (editor, code completion, library management) yang lebih baik. Saya sedang mencoba install tool ini.

MESH NETWORK

Awalnya saya coba implementasi mesh network menggunakan library easyMesh. Saya mulai dengan contoh program examples/demoToy. Program ini memasang easyMesh, webserver dan websocket dalam ESP8266 sedemikian hingga tiap node akan langsung gabung dalam mesh network yang terjangkau. Selain itu, websocket memungkinkan laptop atau HP kita sebagai Station yang terkoneksi ke AP ESP8266, dan melakukan komunikasi secara kontinyu.  Namun dari pengalaman saya koneksi ke AP ESP8266 tidak handal dan sering kali disconnect. Penyebabnya mungkin karena implementasi easyMesh yang secara rutin melakukan scanning mencari network, sehingga koneksi yang sudah ada menjadi terputus. Library easyMesh ini juga sudah cukup lama tidak ada update, terakhir update 25 Agustus 2016.

Kemudian saya menemukan library painlessMesh yang dibangun berdasarkan easyMesh, namun telah mengalami perbaikan-perbaikan. Jadi saya coba pakai library painlessMesh, webserver, dan websocket ke modul ESP8266. Hasilnya adalah seperti dalam video demo di bawah ini **. Sekedar informasi tidak penting, lampu yang saya gunakan tersebut adalah lampu depan motor saya yang sudah rusak salah satu filamen nya. Dalam sebuah lampu depan motor itu ternyata ada dua filamen, satu untuk menerangi jauh ke depan, dan satu lagi menerangi jarak dekat. Begitu juga dengan lampu belakang, satu filamen untuk lampu malam dan satu filamen lainnya untuk rem. Saya baru tahu ini waktu mengganti lampu motor saya :). Kembali ke video, rangkaian dalam demo ini sangat sederhana. Lampu tersebut di drive  menggunakan transistor NPN Darlington TIP122, dan diberi supply 12 volt. Output PWM dari pin D1 ESP8266 yang berfungsi mengatur tingkat kecerahan lampu dihubungkan seri dengan resistor 10 kOhm dan kaki basis TIP122. Modul NodeMcu tersebut digunakan secara standalone, yaitu berfungsi menghandle protokol WiFi dan sekaligus berinteraksi dengan dunia luar (dalam hal ini mengendalikan lampu) melalui pin input/output nya. Jadi kita tidak perlu menggunakan mikrokontroler tambahan.

Dari hasil observasi, dapat saya laporkan bahwa koneksi websocket antara laptop ke node ESP8266 kadang-kadang mengalami gangguan dan terputus. Masih perlu ditelusuri lagi apa penyebabnya. Sedangkan koneksi antar node terlihat lebih reliable, dengan sesekali mengalami disonnected. Namun tidak sesering saat menggunakan library easyMesh.

Dalam demo ini hanya digunakan dua buah node. Tugas ke depannya adalah mencoba menambahkan lebih banyak node lagi, dan mengevaluasi seberapa reliable koneksi nya dan  seberapa jauh jangkauan mesh network ini.

Bagi yang membutuhkan modul WiFi NodeMcu ESP8266, bisa ke sini:

https://www.tokopedia.com/inovatronik/esp8266-nodemcu-iot-wifi-esp-12-usb-to-serial-internet

_______________________________

*: Tanggal 12 September 2017 lalu saya mengikuti seminar Microchip / Atmel. Di situ saya baru tahu tentang teknologi LoRa, yang memiliki ciri long range, low data rate, dan low energy. Teknologi LoRa mengklaim bisa menjangkau hingga jarak 15 km dengan adanya line of sight. Saya tidak  tahu seperti apa performa nya dalam lingkungan indoor.

 

Negara membiarkan

Apakah slogan ‘Negara harus hadir’ hanya tinggal slogan? Setidaknya itu yang terjadi di Jalan Baru Cisauk-Muncul, Tangerang. Kondisi jalan yang rusak parah terus dibiarkan sudah setahun ini. Semakin hari semakin parah. Jalanan cor ini patah di tengah. Akibatnya jalan jadi tidak rata, mungkin terjadi beda ketinggian sekitar 50 cm an. Kondisi diperparah lagi oleh kontur jalan yang menanjak. Apalagi waktu hujan, jalan jadi licin, dan terdapat genangan air yg cukup dalam. Mungkin bisa saya ternak ikan lele di situ.

Dalam kurun waktu 2-3 bulan ini, mungkin sudah ada 3 truk besar yang terguling. Akibatnya terjadi kemacetan panjang di jalan tersebut. Kali ini (15 Agustus 2016), terjadi lagi truk terguling dan menimpa sebuah mobil di sebelahnya. Ntah apakah ada korban jiwa atau tidak. Semoga tidak.

Sudah setahun jalan rusak tapi tidak dilakukan perbaikan. Negara sedang bangkrut, dan tidak punya uang? Entahlah. Lalu, jika jalan rusak parah seperti itu dan saat ini belum bisa perbaiki, tolonglah lakukan tindakan-tindakan antisipasi, misal dengan pengalihan jalan bagi truk-truk besar supaya tidak melintasi jalan tersebut. Pleaseeeeeee lakukan sesuatu!! Apakah harus ada korban lagi?

Negara hanya membiarkan.

#dari seorang warga yang tiap hari melintasi jalan tersebut

Numerically solving third-order RLC natural response

The previous post deals with a second-order RLC natural response. Whereas this one deals with a third-order RLC natural response.

page1

page2

% Numerically solving third-order RLC natural response using
% Ordinary Differential Equation (ode) solver
%% -----L---------
%  |    |        |
%  Cs   Cp      Rl
%  |    |        |
% ----------------
clear all;
Cs = 0.5 * 10^(-3);
Cp = 30 *10^-6;
L = 0.1*10^-6;
Rl = 0.1;

a = L;
b = L/(Cp*Rl);
c = (1/Cs) + (1/Cp);
d = 1/(Cp*Rl*Cs);

tspan = [0 0.00005];

init = 0;         % i(0+)
init2 = -100/L;   % di/dt(0+)
init3 = 0;        % d^2i/dt^2(0+)
y0 = [init; init2; init3];
[t, y] = ode45(@(t,y) [y(2); y(3); (-b*y(3)-c*y(2)-d*y(1))/a], tspan, y0);

i1 = y(:,1);
i1_pp = y(:,3); % i1''

% differentiating equation (3) once, we get i2
i2 = -Cp*( ((1/Cs)+(1/Cp))*i1 + L*i1_pp);
figure (2)
plot(t,i2*Rl,'r-')
grid on

X=[0 0.5];
Y=[0 0.5];
xlabel('time (s)')
ylabel('V_{RL} (volts)')

Here is the result:

thirr order RLC

I have verified the result using LTSPICE IV simulation. Here is the circuit file.

Frankly, it took me quite some time to choose which set of equations, combination of equations that will give solutions. I cannot see them immediately. It is important to choose which current (i1, i2 or i3) to be solved first because either current must be provided with its initial conditions. But not all initial conditions are available for all choice of currents. So, I did trial and error. Usually, if your differential equation is in terms of current, then you should choose the current that flows through an inductor. On the other hand, if your differential equation is in terms of voltage, then choose for voltage drop across a capacitor. By doing so, we will have the initial conditions.

If I am not mistaken, another approach using state equations provides an easier way to solve even more complex circuits.

 

Numerically solving second-order RLC natural response using Matlab

I remember that I only got a C+ for the subject of electric circuit II. It faithfully reflected my understanding of the subject. It was unclear to me, but fortunately I passed. Recently I revisited the subject of RLC natural response again because I wanted to analyze the performance of  a step up transformer based high voltage generator. For that reasons, I needed to derive RLC characteristic equations, and then solved it numerically in Matlab. After doing the problems for some time, I think now I have a better understanding.

I want to immortalize my notes in this blog. So I can look back to these notes in case I forget how to solve them in the future. Hopefully, you find them useful too 🙂

page1scan0002


% Numerically solving RLC natural response using
% Ordinary Differential Equation (ode) solver
%% -----Rp-------Rs----
%  |         |        |
%  C         L       Rl
%  |         |        |
%  --------------------
clear all;

C = 100 * 10^(-6);
L = 7 * 10^(-3);
Rl = 50;
Rs = 5;
Rp = 2;
Vc = 100;

a = (Rs+Rp+Rl)*L/(Rs+Rl);         %from equation (5)
b = (C*Rp*(Rs+Rl)+L)/(C*(Rs+Rl)); %from equation (5)
c = 1/C;                          %from equation (5)

tspan = [0 0.05];
init = 0;                             %i(0+)
init2 = ((Rs+Rl)*Vc)/((Rs+Rp+Rl)*L);  %di/dt (0+)
y0 = [init; init2];
[t, y] = ode45(@(t,y) [y(2); (-c*y(1)-b*y(2))/a], tspan, y0);
i3 = y(:,1);
i2 = y(:,2)*(L/(Rs+Rl));  %from equation (3)
i1 = -(i2+i3);            %from equation (1)

figure(2)
plot(t,i2*Rl)
grid on
xlabel('time (seconds)')
ylabel('V_{RL} (volts)')

Here is the result….

rlc natural response.png

I have verified the result by comparing with a free circuit simulation software LTSPICE IV. Here is the circuit file, if you want to check.

Pengalaman pembuatan paspor di ULP BSD, Tangerang Selatan

Pada akhir tahun 2015, saya mendapat informasi bahwa pembuatan paspor sekarang bisa dilakukan di BSD karena baru saja dibuka Unit Pelayanan Paspor (ULP) di Ruko Golden Boulevard Blok E, nomor 5-6, BSD City, Serpong, Tangerang Selatan (link berita). Sebelumnya, saya sudah berencana mengurus paspor ke Kantor Imigrasi yang ada di Tangerang, yang berada cukup jauh dari tempat domisili. Hadirnya ULP BSD ini menggembirakan, dan saya ingin coba mengurus paspor di situ.

ULP BSD

Hari Kamis, 10 Maret 2016 saya tiba di ULP BSD pukul 08.15. Walaupun menurut saya sudah cukup pagi, ternyata saya mendapat antrian yang ke 75. Petugas memberikan form aplikasi dan surat pernyataan. Kedua formulir tersebut harus diisi menggunakan tinta HITAM.  Saat itu ruangan sangat penuh dan saya terpaksa mengisi kedua formulir di emperan kantor. Setelah mengisi, saya masuk ruangan dan menunggu nomor antrian saya dipanggil.

Kantor ULP BSD ini ada 2 lantai. Di lantai 1 petugas mengecek kelengkapan dokumen kita, yaitu:

  1. KTP asli dan fotokopi 1 lembar
  2. KK asli dan fotokopi 1 lembar
  3. Akte lahir asli dan fotokopi 1 lembar
  4. Paspor lama (jika ada), dan fotokopi halaman biodata 1 lembar
  5. Formulir aplikasi
  6. Surat pertanyaan, ditempeli materai 6000 jika belum pernah membuat paspor di Kantor Imigrasi Tangerang. (di ULP BSD meterai dijual 10000 dan fotokopi 1000 per lembar)

Nomor antrian 75 akhirnya dipanggil pada pukul 10.30. Petugas mengecek semua dokumen saya dan memasukkan dalam sebuah map yang mereka sediakan. Setelah itu saya naik ke lantai 2. Di lantai 2 ini pengambilan foto dan sedikit wawancara dilakukan. Ketika saya naik ke lantai 2, antrian terakhir baru sampai sekitar 30-an. Berarti nomor antrian saya masih jauh. Setelah saya amati waktu yang dibutuhkan per nomer antrian, saya perkirakan nomer 75 baru akan dipanggil pada sore hari. Saya memutuskan untuk pulang dan datang lagi besok lebih pagi.

Besoknya, saya datang lagi pukul 07.15, dannnnnn… ternyata dari kejauhan sudah terlihat banyak orang mengantri di depan kantor, meskipun kantornya belum juga buka. Kantor buka jam 07.30 dan saya mendapat antrian ke 24. Pelayanan sebenarnya dimulai pada pukul 08.00. Jadi 30 menit pertama dipakai oleh petugas memberikan penjelasan singkat kepada semua pelamar. Dari penjelasan itu saya tahu bahwa ada beberapa orang yang mendapat prioritas layanan, yaitu orang-orang lansia, ibu hamil, bayi di bawah 1 tahun, dan orang cacat. Ternyata juga, di ULP BSD hanya ada 1 pilihan jenis paspor yaitu yang non-elektronik 48 halaman. Tidak ada yang 24 halaman maupun e-paspor.

Nomor antrian saya dipanggil kira-kira pukul 09.00. Karena semua dokumen saya sudah lengkap dari kemarin, saya langsung disuruh ke lantai 2. Kali ini antrian cukup pendek. 15 menit kemudian giliran saya masuk ruang wawancara dan foto. Tidak banyak yang ditanyakan, hanya seputar kemana tujuan ke luar negeri, untuk tujuan apa, bekerja dimana, dsb. Lima menit saja sudah selesai, dan saya diberikan selembar kertas pengantar pembayaran. Kita harus menyetor pembayaran ke teller Bank BNI atau transfer melalui ATM BNI. Namun petugas lebih menyarankan untuk membayar ke teller BNI. Entah apa alasannya. Saya tidak tahu pasti.

Di seberang jalan, tidak jauh dari kantor ULP BSD ada sebuah Bank BNI. Saya bergegas ke sana untuk membayar supaya semua urusan cepat selesai. Setelah dicek oleh teller bank, ternyataaaaaaaa… nomer referensi pembayaran milik saya belum listed dalam sistem bank. Jadi pembayaran belum bisa dilakukan.

Senin sore, 14 Maret 2016 saya coba lagi ke bank BNI. Dan kali ini pun penonton kecewa lagi karena nomor referensi masih belum ditemukan dalam sistem. Sia-sia bolak-balik ke bank :(. Teller bank menyarankan besok coba datang lagi, dan jika masih belum terdaftar, maka sebaiknya datang lagi ke kantor imigrasi. Pada saat briefing pagi yang saya bilang di atas, mbak petugasnya memberikan nomor handphone nya. Saya sudah rencanakan untuk telepon ke nomer tersebut, daripada jauh-jauh datang lagi ke ULP BSD.

Besoknya, 15 Maret 2016 saya ada urusan di Jakarta dan kebetulan ada waktu luang beberapa jam. Lalu saya memutuskan untuk coba datang ke Bank BNI, tapi dimanakah kantor bank BNI di sekitar tempat saya berada? Berkat bantuan Google Map dan search ‘near places‘, ternyata ada sebuah Bank BNI berjarak 600m. Langsung saya meluncur ke TKP. Sambil harap-harap cemas ketika dicek oleh teller bank, ternyataaaaaaa… muncul juga nomer pembayaran saya. Jumlah yang harus dibayarkan sebesar 355.000, plus 5000 administrasi bank.

Paspor bisa diambil di kantor imigrasi paling cepat pada hari ketiga (sore hari) setelah pembayaran. Artinya, semoga paspor saya bisa selesai pada hari Jumat. Namun saya rencana akan ambil pada hari Senin depan saja…

Jadi untuk mencegah waktu terbuang sia-sia datang ke bank, mungkin sebaiknya dicek dulu melalui ATM BNI atau internet banking apakah nomer pembayaran Anda sudah masuk dalam sistem.

Di berita online yang saya baca, disebutkan bahwa ULP BSD ini juga melayani aplikasi paspor yang melalui registrasi online. Namun saya pernah bertanya ke CS Kantor Imigrasi Tangerang, dan mereka bilang ULP BSD belum bisa melayani aplikasi paspor online.

Makin lama akan makin banyak warga yang tahu keberadaan ULP BSD ini. Perkiraan saya, akan ada lebih banyak lagi orang yang rela datang lebih pagi untuk menghindari antrian panjang. Mungkin satu tahun dari sekarang, meski Anda tiba pada pukul 07.15, Anda harus puas mendapat antrian di atas 40 atau 50


UPDATE (22 Januari 2018):

Saat ini pendaftaran sudah dilakukan secara online via WA. Di bawah ini info dari Ayu Indriani mengenai daftar via WA:

Untuk nomor WA bisa hubungi 081221700044 untuk ambil nomor antrian via WA. Bisa liat di blog ini kaka-kaka untuk referensi baca http://belchunk.blogspot.co.id/2017/08/pengalaman-antrian-passport-2017.html