Mengurus Visa Taiwan

Sudah ada beberapa post yang menceritakan tentang cara apply visa berkunjung ke Taiwan, seperti di sini dan sini. Saya terbantu dari cerita kedua post tersebut.  Hanya saja ada beberapa hal lain yang saya alami.

Menurut info yang saya dapat dari website, biaya untuk visa single entry adalah sebesar Rp. 460.000. Saya juga mencoba bertanya soal biaya ke beberapa agen di area Serpong yang melayani pembuatan visa Taiwan. Kisaran harganya Rp 730.000 sampai Rp. 775.000. Saya pikir selisihnya lumayan juga dengan mengurus sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk coba datang sendiri. Selain itu, biar ada pengalaman dan tahu seperti apa mengurus visa sendiri.

Tanggal 28 April 2016 saya berangkat menggunakan KRL. Waktu itu kira-kira jam 6.45. Dan ternyata dalam KRL luar biasa padat. Ini pertama kali saya merasakan sesak yang begitu rupa, bahkan terasa agak susah menarik nafas. Kantor TETO bertempat di lantai 12 Gedung Artha Graha. Sampai di sana, tidak ada antrian dan saya langsung menyerahkan dokumen-dokumen. Ternyata booking tiket dan penginapan tidak diminta.

Pada saat hendak membayar di kasir rupanya uang saya kurang. Di website TETO memang tertulis Rp. 460.000. Ternyata itu harga empat tahun lalu. Jadi biaya yang harus dibayar adalah Rp. 650.000. Masalah kedua adalah bahwa menurut petugas nya pasfoto yang saya pakai sudah terlalu lama. Memang itu foto tahun 2008 sih :). Untung kedua masalah tersebut bisa diselesaikan di lantai basement. Ada ATM Mandiri, dan toko yang melayani fotokopi dan pasfoto. Pembuatan pasfoto dikenakan biaya Rp. 50.000. Menurut mas yang punya toko, bahkan kadang-kadang TETO menganggap pasfoto 3 bulan tidak up to date, dan harus foto lagi.

Katanya visa saya bisa diambil tanggal 2 Mei 2016. Pengambilan visa dibuka setelah jam 13.00. Tapi saya kembali ke TETO sehari berikutnya. Dan tadaaaaaaa visa Taiwan sudah di tangan. 🙂

 

Numerically solving third-order RLC natural response

The previous post deals with a second-order RLC natural response. Whereas this one deals with a third-order RLC natural response.

page1

page2

% Numerically solving third-order RLC natural response using
% Ordinary Differential Equation (ode) solver
%% -----L---------
%  |    |        |
%  Cs   Cp      Rl
%  |    |        |
% ----------------
clear all;
Cs = 0.5 * 10^(-3);
Cp = 30 *10^-6;
L = 0.1*10^-6;
Rl = 0.1;

a = L;
b = L/(Cp*Rl);
c = (1/Cs) + (1/Cp);
d = 1/(Cp*Rl*Cs);

tspan = [0 0.00005];

init = 0;         % i(0+)
init2 = -100/L;   % di/dt(0+)
init3 = 0;        % d^2i/dt^2(0+)
y0 = [init; init2; init3];
[t, y] = ode45(@(t,y) [y(2); y(3); (-b*y(3)-c*y(2)-d*y(1))/a], tspan, y0);

i1 = y(:,1);
i1_pp = y(:,3); % i1''

% differentiating equation (3) once, we get i2
i2 = -Cp*( ((1/Cs)+(1/Cp))*i1 + L*i1_pp);
figure (2)
plot(t,i2*Rl,'r-')
grid on

X=[0 0.5];
Y=[0 0.5];
xlabel('time (s)')
ylabel('V_{RL} (volts)')

Here is the result:

thirr order RLC

I have verified the result using LTSPICE IV simulation. Here is the circuit file.

Frankly, it took me quite some time to choose which set of equations, combination of equations that will give solutions. I cannot see them immediately. It is important to choose which current (i1, i2 or i3) to be solved first because either current must be provided with its initial conditions. But not all initial conditions are available for all choice of currents. So, I did trial and error. Usually, if your differential equation is in terms of current, then you should choose the current that flows through an inductor. On the other hand, if your differential equation is in terms of voltage, then choose for voltage drop across a capacitor. By doing so, we will have the initial conditions.

If I am not mistaken, another approach using state equations provides an easier way to solve even more complex circuits.

 

Numerically solving second-order RLC natural response using Matlab

I remember that I only got a C+ for the subject of electric circuit II. It faithfully reflected my understanding of the subject. It was unclear to me, but fortunately I passed. Recently I revisited the subject of RLC natural response again because I wanted to analyze the performance of  a step up transformer based high voltage generator. For that reasons, I needed to derive RLC characteristic equations, and then solved it numerically in Matlab. After doing the problems for some time, I think now I have a better understanding.

I want to immortalize my notes in this blog. So I can look back to these notes in case I forget how to solve them in the future. Hopefully, you find them useful too 🙂

page1scan0002


% Numerically solving RLC natural response using
% Ordinary Differential Equation (ode) solver
%% -----Rp-------Rs----
%  |         |        |
%  C         L       Rl
%  |         |        |
%  --------------------
clear all;

C = 100 * 10^(-6);
L = 7 * 10^(-3);
Rl = 50;
Rs = 5;
Rp = 2;
Vc = 100;

a = (Rs+Rp+Rl)*L/(Rs+Rl);         %from equation (5)
b = (C*Rp*(Rs+Rl)+L)/(C*(Rs+Rl)); %from equation (5)
c = 1/C;                          %from equation (5)

tspan = [0 0.05];
init = 0;                             %i(0+)
init2 = ((Rs+Rl)*Vc)/((Rs+Rp+Rl)*L);  %di/dt (0+)
y0 = [init; init2];
[t, y] = ode45(@(t,y) [y(2); (-c*y(1)-b*y(2))/a], tspan, y0);
i3 = y(:,1);
i2 = y(:,2)*(L/(Rs+Rl));  %from equation (3)
i1 = -(i2+i3);            %from equation (1)

figure(2)
plot(t,i2*Rl)
grid on
xlabel('time (seconds)')
ylabel('V_{RL} (volts)')

Here is the result….

rlc natural response.png

I have verified the result by comparing with a free circuit simulation software LTSPICE IV. Here is the circuit file, if you want to check.

Pengalaman pembuatan paspor di ULP BSD, Tangerang Selatan

Pada akhir tahun 2015, saya mendapat informasi bahwa pembuatan paspor sekarang bisa dilakukan di BSD karena baru saja dibuka Unit Pelayanan Paspor (ULP) di Ruko Golden Boulevard Blok E, nomor 5-6, BSD City, Serpong, Tangerang Selatan (link berita). Sebelumnya, saya sudah berencana mengurus paspor ke Kantor Imigrasi yang ada di Tangerang, yang berada cukup jauh dari tempat domisili. Hadirnya ULP BSD ini menggembirakan, dan saya ingin coba mengurus paspor di situ.

ULP BSD

Hari Kamis, 10 Maret 2016 saya tiba di ULP BSD pukul 08.15. Walaupun menurut saya sudah cukup pagi, ternyata saya mendapat antrian yang ke 75. Petugas memberikan form aplikasi dan surat pernyataan. Kedua formulir tersebut harus diisi menggunakan tinta HITAM.  Saat itu ruangan sangat penuh dan saya terpaksa mengisi kedua formulir di emperan kantor. Setelah mengisi, saya masuk ruangan dan menunggu nomor antrian saya dipanggil.

Kantor ULP BSD ini ada 2 lantai. Di lantai 1 petugas mengecek kelengkapan dokumen kita, yaitu:

  1. KTP asli dan fotokopi 1 lembar
  2. KK asli dan fotokopi 1 lembar
  3. Akte lahir asli dan fotokopi 1 lembar
  4. Paspor lama (jika ada), dan fotokopi halaman biodata 1 lembar
  5. Formulir aplikasi
  6. Surat pertanyaan, ditempeli materai 6000 jika belum pernah membuat paspor di Kantor Imigrasi Tangerang. (di ULP BSD meterai dijual 10000 dan fotokopi 1000 per lembar)

Nomor antrian 75 akhirnya dipanggil pada pukul 10.30. Petugas mengecek semua dokumen saya dan memasukkan dalam sebuah map yang mereka sediakan. Setelah itu saya naik ke lantai 2. Di lantai 2 ini pengambilan foto dan sedikit wawancara dilakukan. Ketika saya naik ke lantai 2, antrian terakhir baru sampai sekitar 30-an. Berarti nomor antrian saya masih jauh. Setelah saya amati waktu yang dibutuhkan per nomer antrian, saya perkirakan nomer 75 baru akan dipanggil pada sore hari. Saya memutuskan untuk pulang dan datang lagi besok lebih pagi.

Besoknya, saya datang lagi pukul 07.15, dannnnnn… ternyata dari kejauhan sudah terlihat banyak orang mengantri di depan kantor, meskipun kantornya belum juga buka. Kantor buka jam 07.30 dan saya mendapat antrian ke 24. Pelayanan sebenarnya dimulai pada pukul 08.00. Jadi 30 menit pertama dipakai oleh petugas memberikan penjelasan singkat kepada semua pelamar. Dari penjelasan itu saya tahu bahwa ada beberapa orang yang mendapat prioritas layanan, yaitu orang-orang lansia, ibu hamil, bayi di bawah 1 tahun, dan orang cacat. Ternyata juga, di ULP BSD hanya ada 1 pilihan jenis paspor yaitu yang non-elektronik 48 halaman. Tidak ada yang 24 halaman maupun e-paspor.

Nomor antrian saya dipanggil kira-kira pukul 09.00. Karena semua dokumen saya sudah lengkap dari kemarin, saya langsung disuruh ke lantai 2. Kali ini antrian cukup pendek. 15 menit kemudian giliran saya masuk ruang wawancara dan foto. Tidak banyak yang ditanyakan, hanya seputar kemana tujuan ke luar negeri, untuk tujuan apa, bekerja dimana, dsb. Lima menit saja sudah selesai, dan saya diberikan selembar kertas pengantar pembayaran. Kita harus menyetor pembayaran ke teller Bank BNI atau transfer melalui ATM BNI. Namun petugas lebih menyarankan untuk membayar ke teller BNI. Entah apa alasannya. Saya tidak tahu pasti.

Di seberang jalan, tidak jauh dari kantor ULP BSD ada sebuah Bank BNI. Saya bergegas ke sana untuk membayar supaya semua urusan cepat selesai. Setelah dicek oleh teller bank, ternyataaaaaaaa… nomer referensi pembayaran milik saya belum listed dalam sistem bank. Jadi pembayaran belum bisa dilakukan.

Senin sore, 14 Maret 2016 saya coba lagi ke bank BNI. Dan kali ini pun penonton kecewa lagi karena nomor referensi masih belum ditemukan dalam sistem. Sia-sia bolak-balik ke bank :(. Teller bank menyarankan besok coba datang lagi, dan jika masih belum terdaftar, maka sebaiknya datang lagi ke kantor imigrasi. Pada saat briefing pagi yang saya bilang di atas, mbak petugasnya memberikan nomor handphone nya. Saya sudah rencanakan untuk telepon ke nomer tersebut, daripada jauh-jauh datang lagi ke ULP BSD.

Besoknya, 15 Maret 2016 saya ada urusan di Jakarta dan kebetulan ada waktu luang beberapa jam. Lalu saya memutuskan untuk coba datang ke Bank BNI, tapi dimanakah kantor bank BNI di sekitar tempat saya berada? Berkat bantuan Google Map dan search ‘near places‘, ternyata ada sebuah Bank BNI berjarak 600m. Langsung saya meluncur ke TKP. Sambil harap-harap cemas ketika dicek oleh teller bank, ternyataaaaaaa… muncul juga nomer pembayaran saya. Jumlah yang harus dibayarkan sebesar 355.000, plus 5000 administrasi bank.

Paspor bisa diambil di kantor imigrasi paling cepat pada hari ketiga (sore hari) setelah pembayaran. Artinya, semoga paspor saya bisa selesai pada hari Jumat. Namun saya rencana akan ambil pada hari Senin depan saja…

Jadi untuk mencegah waktu terbuang sia-sia datang ke bank, mungkin sebaiknya dicek dulu melalui ATM BNI atau internet banking apakah nomer pembayaran Anda sudah masuk dalam sistem.

Di berita online yang saya baca, disebutkan bahwa ULP BSD ini juga melayani aplikasi paspor yang melalui registrasi online. Namun saya pernah bertanya ke CS Kantor Imigrasi Tangerang, dan mereka bilang ULP BSD belum bisa melayani aplikasi paspor online.

Makin lama akan makin banyak warga yang tahu keberadaan ULP BSD ini. Perkiraan saya, akan ada lebih banyak lagi orang yang rela datang lebih pagi untuk menghindari antrian panjang. Mungkin satu tahun dari sekarang, meski Anda tiba pada pukul 07.15, Anda harus puas mendapat antrian di atas 40 atau 50.

Ignition-coil voltage measurement using sphere gap and resistive divider methods

In the previous video, I verified that my simple sphere gap measurement setup is quite satisfying. In this video I use the method to measure the pulsed voltage generated by my ignition coil. Actually, to measure a high voltage pulse we can use a high-frequency high voltage o’scope probe, like North Star PVM series. By using oscope, we can obtain the whole waveform, instead of a peak voltage as we get from the sphere gap method. Unfortunately, I don’t have the probe at the moment. That’s why I tried the sphere gap method.

The coil is supplied by a 11.6v voltage source, and driven by 555 timer and MOSFET transistor. In other words, it is configured as inductive discharge ignition. It turns out that the sparks start to happen at the distance of 0.4 cm. This gap means that the voltage between the balls is around 17.4 kV.

However, some people say that the voltage generated by an ignition coil is normally around 30 kV. I need to investigate this further, probably the ignition coil itself is not good enough. Or maybe some unknown sources of error creep in..

Update:

For some reasons, the high voltage generator had been modified to be capacitive discharge system. The capacitor bank was charged up to 310 Vdc. It seemed that the coil output voltage had become higher. In effect, when the coil output was not loaded, sparks forcefully jumped across the coil terminals. In the previous system this behavior was not observed.

A as substitution to the North Star high voltage probe, I tried to build myself a resistive voltage divider. I used a 10 megaohms high voltage resistor and a  10 kohms regular carbon resistor. They are connected in series, and thus forms a 1:1000 voltage divider. Measurement using oscilloscope showed that the coil output voltage reached 17.5kV when the output was loaded with 110 kohms, and peaked at 21 kV when loaded with 280kohms.

 

 

High voltage measurement using sphere gap method

This video shows a high voltage measurement using sphere gap method. The measurement method and voltage values corresponding to certain gap distances can be found in Standard IEC 60052. Because I just came to know about this, so I am curious how it really works and how accurate it is.

In the video, we can see the high voltage source (can supply up to 20 kV) and a pair of metallic balls. The distance between the balls at which the sparks start to take place corresponds to a certain voltage. According to the Standard, for a diameter of 5-cm balls (which I have), the following relations apply:
table_ref
You may have heard that the voltage breakdown of air is about 30 kV/cm. This is referred to this sphere gap method. In fact, if the electrode is not spherically-shaped, i.e pointed tip, the electrical potential becomes very concentrated. As a result, a 30 kV voltage can generate spark at distances more than 1 cm.

Well, although my setup does not strictly follows the Standard, but I can say that the measurement results are quite close comparing against the high voltage source, which is my reference in this measurement.

On top of that, it is fun to witness the sparks!! 🙂

Tentang oven microwave

oven microwave

Oven microwave yang sehari-hari kita gunakan untuk menghangatkan makanan ternyata memiliki sejarah invensi yang menarik. Suatu hari Percy Spencer, seorang insinyur di bidang teknologi radar, sedang melakukan eksperimen, dan secara tidak sengaja  ia mendapati bahwa coklat batang dalam saku nya mencair. Ia menduga gelombang microwave adalah penyebabnya. Untuk membuktikannya, ia juga mencoba memanaskan telur. Konon telur tersebut meletus dan mengenai wajah salah seorang koleganya.

Oven microwave yang digunakan dalam rumah tangga biasanya bekerja pada frekuensi 2.45 GHz, yaitu salah satu alokasi frekuensi yang tidak memerlukan lisensi dalam penggunaannya. Rentang frekuensi ini juga digunakan dalam komunikasi data Bluetooth dan WiFi.

Secara prinsip, oven microwave dengan frekuensi tinggi tesebut berfungsi untuk menggetarkan molekul-molekul air maupun lemak yang terkandung dalam makanan. Di level mikroskopis, gerakan tak beraturan dari molekul-molekul tersebut menyebabkan tumbukan antar molekul. Jadi pada level makroskopis kita akan mendapati bahwa tumbukan tersebut menyebabkan makanan menjadi hangat.

Komponen utama dari oven microwave adalah sebuah magnetron. Karena itu di Belanda, oven microwave juga sering disebut dengan istilah magnetron. Magnetron memiliki rongga yang dirancang sedemikian rupa agar terjadi resonansi gelombang elektromagnetik pada frekuensi tertentu. Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan kemudian disalurkan ke kotak dimana makanan ditempatkan.  Kotak yang terbuat dari bahan logam ini berfungsi untuk mengurung radiasi gelombang micowave agar tidak keluar. Gelombang micowave ini akan memantul di dalam kotak hingga diserap oleh makanan. Karena itu tidak disarankan untuk menyalakan oven microwave dalam keadaan kosong. Oven yang dalam keadaan kosong membuat energi microwave tidak terserap dan akan terakumulasi secara berlebihan, yang akhirnya bisa merusak magnetron itu sendiri.

Berbeda dengan radiasi sinar X, radiasi microwave tidak mengionisasi molekul yang berinteraksi dengannya sehingga aman digunakan. Selain itu, tidak seperti radiasi nuklir yang bisa bersifat radioaktif hingga beberapa waktu lamanya, saat oven microwave dimatikan radiasinya akan langsung hilang. Analoginya seperti bola lampu yang hanya memancarkan cahaya pada saat dinyalakan. Ketika bola lampu dimatikan pancaran cahaya nya akan langsung hilang.

Jika kita perhatikan, bagian pintu oven microwave biasanya terbuat dari lapisan kaca transparan dan jaring-jaring logam dengan lubang berukuran kecil. Fungsinya adalah supaya kita masih bisa melihat makanan di dalam oven. Melalui jaring-jaring kecil ini cahaya dari dalam oven masih bisa keluar. Lalu apakah gelombang microwave tidak juga bocor melalui jaring-jaring tersebut, mengingat gelombang microwave dan sinar cahaya sama-sama gelombang elektromagnetik?

Gelombang microwave yang beroperasi di frekuensi 2.45 GHz memiliki panjang gelombang sebesar 12 cm. Sedangkan lubang jaring-jaring pada pintu oven biasanya memiliki diameter 1 mm, atau setara dengan 1/120 panjang gelombang yang digunakan. Ukuran lubang yang sedemikian kecil membuat jaring-jaring tersebut seolah-olah tidak transparan bagi gelombang microwave. Meskipun akan tetap ada sebagian gelombang microwave yang tembus, tapi intensitasnya sangatlah kecil. Sebagian besar gelombang microwave akan tetap terkurung dalam oven. Namun, cahaya lampu yang memiliki panjang gelombang dalam orde nanometer atau +/- 200.000 kali lebih kecil dari panjang gelombang microwave akan dengan mudah saja melewati jaring-jaring tersebut.

Selain melalui jaring-jaring, kebocoran gelombang microwave juga bisa terjadi jika pintu oven tidak tertutup dengan rapat sehingga kontak antara pintu dan body tidak sempurna. Standar International Electrotechnical Commission (IEC) yang banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia menyarankan kebocoran tidak lebih dari 5 mW/cm2 ­dengan pengukuran dilakukan pada jarak 5 cm dari oven.

(Dari berbagai sumber)