Mengembalikan Ubuntu yang Hilang Setelah Install Windows 10

Laptop saya sebelumnya sudah terinstal Ubuntu 16.04. Kemudian saya ada kebutuhan untuk memakai Windows juga. Maka saya buat satu partisi lagi untuk Windows. Windows 10 berhasil di-install dengan baik. Tapi saya terkaget-kaget mendapati bahwa partisi di mana Ubuntu ter-install menjadi unallocated. Jadi Ubuntu nya tidak bisa diakses lagi!

Namun saya menemukan solusi nya di sini.

https://askubuntu.com/questions/828838/installed-windows-10-grub-problem-linux-drive-became-unallocated

Di posting itu ada link di bawah ini, dan command di situ yang saya ikuti:

https://askubuntu.com/questions/665445/upgraded-to-windows-10-on-dual-boot-and-cant-boot-to-ubuntu-partition/665462

Partisi Ubuntu yang ‘hilang’ ini terjadi karena sewaktu instalasi Windows, Windows mengubah Master Boot Record (MBR) harddisk dengan cara yang tidak benar. Sebetulnya isi data dalam partisi Ubuntu tersebut tidak tersentuh sama sekali. Yang rusak adalah informasi identitas partisi tersebut dalam tabel MBR. Sehingga partisi tersebut jadi tidak dikenali.

Sebab itu kita perlu memasukkan lagi informasi partisi Ubuntu tersebut ke dalam tabel MBR. Solusinya menggunakan tool bernama parted, dan dijalankan melalui command prompt Linux.

Langkah pertama siapkan flashdisk Ubuntu Live dari Windows . Ikuti langkah-langkahnya di sini:

https://itsfoss.com/create-live-usb-of-ubuntu-in-windows/

Setelah menyiapkan Ubuntu Live, booting lah melalui flashdisk tersebut dan pilih mode Ubuntu Live (tanpa meng-install).

Kemudian buka command prompt dalam masukkan command

> sudo parted
> unit s
> print all
> rescue [start] [end]

Ganti [start] dan [end] dengan angka sector di mana terdapat partisi Ubuntu yang ‘hilang’.

Saya tidak sempat membuat screenshot dari proses di atas. Saya coba ilustrasikan pakai Ubuntu yang sudah berhasil dikembalikan. Kurang lebih akan seperti screenshot di bawah ini:

parted-edit

Setelah menjalan perintah rescue, akan muncul pesan bahwa ditemukan file system ext4 (atau yang lainnya sesuai partisi Anda) dan akan ditambahkan pada tabel MBR.

Anda bisa jalankan perintah print all lagi, dan lihat bahwa partisi yang hilang telah ditemukan kembali!

Setelah ini, saya menggunakan tool EasyBCD pada Windows untuk menambahkan Ubuntu pada list OS pada saat booting Windows. Langkah-langkah bisa dilihat di sini. EasyBCD bisa di-download di sini. Pilih yang Non-Commercial (free).

Selain menggunakan EasyBCD pada Windows, Anda bisa juga menggunakan tool boot-repair dalam Ubuntu Live lagi. Langkah-langkahnya bisa dilihat di sini. Namun saya sendiri tidak mencobanya.

Selamat atas kembalinya Ubuntu!

Bahaya Menggunakan Single-Ended Probe Osiloskop!!

Ngukur rangkaian pakai osiloskop bukanlah hal baru. Rasanya ngga sulit mengoperasikan alat ini, dan ngga pernah tau ada bahaya dalam menggunakan osiloskop. Namun baru-baru ini ada satu pengalaman yang sangat mengangetkan dan trauma nya masih belum hilang 😦 Trauma karena shock, dan takut kalau osiloskop jadi rusak. Tapi untungnya waktu itu osiloskop nya ngga sampai rusak. Kejadiannya begini:

skenario

Ada sebuah prototipe switching power supply untuk mengubah input AC 220V menjadi output DC. Saya mau ngukur tegangan DC pada salah satu pin IC switching controller nya. Ngukurnya pakai single-ended probe yang umum, yang ada jepit buaya nya:

single ended probe

Pertama saya pasang ujung positif probe ke pin IC yang mau diukur tegangan DC nya. Sampai di sini tidak terjadi apa-apa. Kemudian saya pasang ujung negatif probe (jepit buaya) pada DC GND, dan seketika juga:

coom.gif

terjadi letupan dan MCB nge-trip! Waduh itu satu-satunya osiloskop yang paling bisa diandalkan. Tapi ternyata osiloskop nya baik-baik aja.

Kenapa bisa terjadi korsleting? Pengukuran di atas sekilas terlihat sudah benar. Tapi setelah ditelusuri, ternyata ada kesalahan fatal yang tidak disadari dan tidak mudah terlihat:penjelasan boom opaqueKawat Neutral sebetulnya terhubung dengan kawat Earth pada panel utama instalasi listrik. Sementra itu, ujung negatif probe (jepit buaya) terhubung dengan kawat Earth pada kabel daya osiloskop, yang akhirnya terhubung dengan Earth di panel utama.

Itulah sebabnya kenapa korsleting terjadi saat kita menghubungkan jepit buaya ke DC GND. Yang terjadi adalah kita men-short-kan Neutral dengan DC GND. Padahal kedua titik tidak berada pada potensial yang sama. Faktanya, ada beda potensial yang sangat besar antara Neutral dan DC GND.

penjelasan boom 2Di sini kita coba buat simulasi untuk menunjukkan tegangan antara Neutral dan DC-GND. Yang kurva merah adalah tegangan antara Neutral dan DC-GND. Untung saja waktu itu MCB nya lebih cepat nge-trip. Kalau tidak, mungkin probe nya yang akan menguap.

simulasi V NETRAL-DC_GND 2

V NETRAL-DC_GND edit

Contoh kasus lain

Dalam kasus lain, jika ingin mengukur tegangan AC 220V menggunakan osiloskop dan single-ended probe, berhati-hatilah. Jangan hubungkan ujung negatif probe (jepit buaya) ke titik yang mau diukur.

Jika kita berandai-andai negatif probe tetap dihubungkan ke titik pengukuran, maka ada 2 kemungkinan yang terjadi. Jika kebetulan dihubungkan ke titik Neutral maka tidak terjadi apa-apa karena negatif probe dalam potensial yang sama. Tapi jika terhubung ke titik Live, maka….. 😦

Jika diperlukan pengukuran antara dua titik yang dua-duanya bukan Neutral, bisa pakai 2 channel osiloskop dan aktifkan fungsi Substract CH1-CH2.

Earth terisolasi

Contoh skenario lain, kita ingin mengukur tegangan DC pada rangkaian adaptor AC-DC yang menggunakan trafo 50Hz seperti di bawah ini. Dalam kasus ini Earth input AC telah terisolasi sehingga sisi AC dan DC tidak terhubung secara konduktif. Jadi kita bisa mengukur di titik manapun pada sisi DC dengan aman.

Differential probe

Untuk menghindari terjadinya korsleting pada pengukuran yang melibatkan tegangan yang tidak terisolasi dari Earth AC, sangat direkomendasikan menggunakan differential-probe. Dalam differential probe, ujung positif dan negatif probe tidak terhubung langsung dengan ground konektor BNC. Dengan differential probe ini, maka tidak akan terjadi korsleting seperti kasus di atas.

Diagram of conceptual schematic diagram of a differential probe

Image of Cal Test Electronics Model CT3681 70 MHz, high-voltage differential probe

https://www.digikey.hk/en/articles/techzone/2018/mar/safely-test-line-powered-switched-mode-power-supplies

Pelajarannya, berhati-hatilah dalam memasang ujung negatif single-ended probe. Double-check apakah titik yang mau dipasang dengan negatif probe menyebabkan short.

Referensi bagus:

Fungsi dan Cara Kerja LISN

Hampir semua peralatan elektronik dan elektrik (kecuali peralatan yang menggunakan elemen resistif saja, seperti setrika listrik dan bohlam) mengeluarkan emisi gelombang elektromagnetik (EM) dalam operasinya. Tergantung peralatannya, emisi EM ini bisa jadi merupakan fungsi utama peralatan tersebut (misal, handphone yang mengeluarkan emisi EM pada frekuensi GSM), atau bisa juga merupakan efek samping dari cara kerja alat. Mungkin Anda pernah mengalami gambar televisi yang terganggu saat menyalakan bor listrik, blender, atau sejenisnya. Gangguan terjadi karena putaran motor listrik ternyata mengeluarkan emisi EM yang menyebabkan interferensi pada frekuensi televisi.

Efek samping emisi EM ini tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tapi bisa diredam sampai pada level yang tidak mengganggu peralatan lain. Standar internasional, seperti CISPR, FCC, & IEC, memberikan rekomendasi berapa nilai batasan emisi EM yang dapat diterima agar meminimalkan interferensi.

Emisi EM dapat merambat secara konduksi (conducted emission) melalui kabel atau secara radiasi (radiated emission) melalui udara. Untuk mengetahui berapa besar emisi EM yang dikeluarkan oleh peralatan, maka perlu dilakukan pengukuran. Pada pengukuran conducted emission (CE), salah satu instrumen utama yang digunakan adalah Line Impedance Stabilization Network (LISN).

Ada berbagai macam LISN. Dari segi sumber daya, ada LISN yang dipakai untuk pengukuran EUT yang disuplai dari tegangan AC maupun DC. Dari segi impedansi, ada LISN yang 50Ω (pengukuran emisi yang merambat melalui kabel power) dan 150Ω (pengukuran emisi EM pada kabel data, seperti kabel telepon dan LAN). Dari segi struktur, LISN dibagi menjadi tipe V dan Delta. Rentang frekuensi kerja LISN juga bervariasi dari 9kHz hingga 1GHz, tergantung standar yang diacu. Beberapa tipe produk LISN dapat dilihat di sini dan sini.

LISN, yang disebut juga Artificial Mains Network (AMN), memiliki beberapa fungsi penting, yaitu:

  1. Menyediakan impedansi RF yang tertentu bagi EUT
  2. Menyediakan daya bagi EUT (equipment under test), dan saat yang bersamaan memungkinkan alat ukur (spectrum analyzer maupun EMI receiver) dapat mengukur emisi EM dengan aman
  3. Mencegah emisi atau noise EM dari jala-jala (grid, mains) masuk ke dalam pengukuran
LISN-3
NNB41 – LISN tipe V untuk sumber AC

Gambar di atas adalah sebuah contoh V-LISN dengan sumber daya AC dan memiliki rentang frekuensi kerja 9kHz-30MHz. Gambar di bawah menunjukkan skematik port-port utama sebuah LISN serta koneksinya.

path4160
Port utama LISN dan koneksinya

Selanjutnya kita akan membahas satu per satu fungsi dari LISN.

1. Menyediakan impedansi RF yang tertentu bagi EUT

Berdasarkan penelitian dalam paper [1], impedansi jarigan jala-jala pada frekuensi 10kHz-30MHz adalah berkisar 1-300Ω. Impedansi jala-jala di tempat atau negara lain mungkin berbeda pula, mengikuti karakteristik beban dan instalasi yang ada.  Dengan kondisi impedansi jala-jala yang fluktuatif ini, maka akurasi dan repeatability pengukuran CE tidak bisa dijamin. Salah satu fungsi LISN adalah menyediakan impedansi RF (misal, LISN NNB41 pada frekuensi 9kHz-30MHz) yang tertentu, terlepas dari impedansi jala-jala yang fluktuatif.

Jika mengacu pada Standar CISPR 16-1-2:2006 tentang persyaratan alat ukur CE, besar impedansi LISN ditetapkan sebagai berikut, dengan toleransi magnitudo ±20% dan toleransi fase ±11.5°

Gambar di bawah ini adalah rangkaian dan ketentuan impedansi pada frekuensi 9kHz-150kHz. (klik gambar untuk memperbesar)

LISN di atas merupakan tipe V-network. Jadi pengukuran tegangan emisi EM nya adalah antara fase dan earth. Bayangkan dua lengan huruf V adalah tegangan antara L-E dan N-E. Kedua lengan pengukuran adalah identik. Artinya, saat melakukan pengukuran L-E, rangkaian L-E diterminasi 50Ω melalui impedansi masukan dari spectrum analyzer. Sedangkan rangkaian N-E juga diterminasi 50Ω, melalui switch dan R4. Oya, R5 yang ada dalam kotak besar (bukan di dalam measuring receiver) sepertinya typo-error. Itu seharusnya R3.

Agar lebih mudah dibaca, rangkaian di atas dapat disusun ulang menjadi seperti di bawah ini.

LISN skematik LTSPICE

Untuk menghitung impedansi LISN yang terlihat oleh emisi EM dari EUT, kita bisa melakukan simulasi menggunakan program LTSpice IV seperti di bawah ini.

  1. Tambahkan sumber tegangan V1, yang mensimulasikan emisi EM yang dipancarkan oleh EUT.
  2. Klik kanan pada V1 dan set amplitude 1V pada bagian Small signal AC Analysis
  3. Lalu tambahkan SPICE directive untuk menjalankan simulasi pada mode AC analysis. Sebagai contoh: .ac dec 100 9k 30Meg untuk melakukan sweeping dari frekuensi 9kHz-30MHz.
  4. Eksekusi simulasi
  5. Klik pada node V(n019), atau sesuai rangkaian Anda. Maka akan muncul grafik tegangan terhadap frekuensi
  6. Lalu klik kanan pada tulisan V(n019) yang berada di atas grafik. Kemudian edit persamaannya menjadi V(n019)/I(V1), atau sesuai nama dalam rangkaian Anda. Yang dilakukan di sini adalah membuat plot tegangan/arus (V/I) yang adalah impedansi.
    • Catatan: jika fase impedansinya bergeser 180°, persamaannya dibuat negatif V(n019)/-I(V1) untuk kompensasi perbedaan acuan arah arus.
  7. Sumbu Y nya mungkin masih dalam satuan dB. Untuk mengubah satuannya menjadi Ω, klik pada bagian sumbu Y grafik. Lalu pilih Linear.

pengukuran L-E-3

impedansi pengukuran L-E 2

Terlihat bahwa sebetulnya impedansi LISN yang dirasakan oleh emisi dari EUT tidak fix di 50Ω, tapi naik dari 5Ω — 47.6Ω sepanjang rentang frekuensi 9kHz-30MHz. Puncaknya tidak pernah mencapai 50Ω karena ada resistor R4 yang paralel dengan 50Ω tersebut. Untuk alasan safety, R4 ini dipasang sebagai jalur discharge muatan bagi C3 ketika instrumen (50Ω) dicabut.

Simulasi impedansi LISN di atas adalah dengan kondisi impedansi jala-jala (mains) terbuka. Kembali mengacu pada paper [1], kita akan melakukan simulasi LISN dengan impedansi mains bervariasi 1-300Ω. Impedansi mains mungkin perpaduan komponen resistif dan reaktif, namun untuk simplifikasi kita pakai impedansi resistif saja. Dalam LTSPICE kita bisa melakukan step variabel. Dalam hal ini, kita akan menvariasikan nilai impedansi mains 0.1, 1, 10, 300Ω dengan directive: step param R list 0.1 1 10 300

variable mains impedance

Grafik di bawah ini menunjukkan impedansi yang akan terlihat oleh emisi EM dari EUT dengan kondisi impedansi mains yang bervariasi. Jelas terbaca bahwa variasi impedansi mains dari 0.1Ω sampai 300Ω hampir tidak berdampak pada impedansi yang terlihat oleh emisi EM dari EUT. Sedikit saja pengaruhnya pada frekuensi rendah. Karena pada frekuensi rendah, nilai reaktansi kapasitor shunt (C1, C2) dan induktor seri (L1, L2) masih comparable dengan impedansi mains.

effects of varying mains impedance 1

effects of varying mains impedance -zoom
Zoom-in pada frekuensi rendah dari grafik di atas

Info extra:

Gambar di bawah ini adalah rangkaian dan ketentuan impedansi pada frekuensi 150kHz-30MHz. (klik gambar untuk memperbesar). Dalam CISPR 16-1-2 disebutkan bahwa walaupun rangkaian yang kita simulasikan di atas adalah untuk frekuensi 9kHz-150kHz, jikalau impedansinya juga memenuhi syarat impedansi pada frekuensi 150kHz-30MHz, maka ia juga dapat digunakan pada frekuensi 150kHz-30MHz.

2. Menyediakan daya bagi EUT, sekaligus agar instrumen dapat mengukur dengan aman

EUT akan mengeluarkan emisi EM hanya jika ia dalam kondisi beroperasi. Artinya, EUT membutuhkan daya. Sementara itu, pengukuran CE adalah pengukuran emisi EM langsung pada kabel. Alat ukur seperti spectrum analyzer (SpA) adalah instrumen yang sangat sensitif dan dynamic range yang tinggi, dari orde nanovolt sampai beberapa volt. Namun tegangan catu 220 volt jelas melebihi batas ukur SpA. Jika tegangan sebesar ini masuk ke dalam RF input port SpA, maka akibatnya bisa fatal… 😦

Untuk mengetahui berapa besar tegangan catu 220V/50Hz yang lolos sampai ke instrumen, kita coba lakukan simulasi seperti di bawah ini.

LF decoupling-2

Hasilnya, tegangan 50Hz yang masuk ke instrumen, V(n005) sebesar ~580mVp. Ini merupakan angka yang sudah jauh teredam jika dibandingkan dengan 310Vp. Namun 580mV masih tergolong tinggi mengingat sensitifitas SpA yang mencapai orde nanovolt. Idealnya, perlu ada high pass filter lagi sebelum masuk ke SpA untuk meredam frekuensi rendah tersebut. Mungkin internal SpA sudah ada HPF juga (?) Di bagian terakhir kita akan melihat skematik LISN NNB41 yang menggunakan HPF dimaksud.

LF decoupling waveform

Fungsi peredaman pada frekuensi rendah (DC, 50Hz, dan sekitarnya) sebelum masuk ke SpA merupakan tugas kapasitor C3. Impedansi C3 (0.25uF) pada frekuensi 50Hz adalah sebesar 12,74kΩ. Jadi tegangan 220V/50Hz yang masuk ke SpA bisa juga dihitung secara analitik:

V 50Hz di SpA

Di sisi lain, emisi EM dari EUT yang diukur oleh SpA juga melewati C3. Artinya, pada frekuensi 9kHz-30MHz impedansi C3 haruslah jauh lebih kecil daripada impedansi SpA (50Ω). Impedansi C3 pada frekuensi 9kHz adalah sebesar 70,7Ω. Ini bukanlah angka yang ideal, karena akan ada jatuh tegangan yang cukup signifikan pada C3. Sedangkan pada frekuensi 150kHz dan 30 MHz, impedansi C3 turun jadi 4,2Ω dan 21mΩ.  Semakin tinggi frekuensi, keberadaan C3 semakin menyerupai ‘short’. Artinya, semakin mendekati kondisi ideal, dimana drop tegangan pada C3 semakin minimum.

Sementara itu, tegangan catu 220V/50Hz (V(n003)-V(n015)) dapat dilewatkan dengan mudah ke port power EUT, seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Induktor L1 dan L2 akan terlihat sebagai impedansi yang sangat kecil (~95mΩ) bagi frekuensi 50Hz, sehingga tegangan catu 220V/50Hz dapat mencapai port power EUT tanpa mengalami peredaman.

LF decoupling waveform supply

Well, besar kecil peredaman tergantung juga pada impedansi beban yang terpasang. Misal, jika terpasang beban resistif yang impedansinya sama besar dengan total reaktansi induktif  pada L-N, yaitu 95mΩ x 2 = 190mΩ, maka tegangan pada beban mengalami peredaman 30% dari tegangan catu. Tapi beban resistif 190mΩ seri dengan reaktansi 190mΩ  berarti mengalir arus 1162 ampere !!

Dengan demikian, LISN telah menjalankan fungsinya dalam menyediakan daya bagi EUT, sekaligus memungkinkan SpA dapat mengukur dengan aman 🙂

3. Mencegah noise EM dari jala-jala masuk ke dalam pengukuran

Berdasarkan CISPR 16-1-2, LISN harus mampu meredam noise EM dari mains masuk ke dalam port pengukuran. Besarnya atenuasi / isolasi ditetapkan sebagai berikut:

CISPR minimum isolation

Untuk mengetahui besarnya atenuasi noise EM dari jala-jala yang masuk ke port pengukuran, kita lakukan simulasi sebagai berikut. Dalam kenyataannya, sumber noise pasti memiliki impedansi, namun kita tidak tahu berapa besarnya. Untuk simplifikasi, kita asumsi sumber noise V3 memiliki impedansi nol.

isolation measurement

Grafik di bawah ini adalah besarnya atenuasi yang terukur pada port pengukuran. Kurva merah merupakan atenuasi minimum yang dipersyaratkan dalam CISPR 16-1-2.

mains noise isolation

Real LISN…

Rangkaian skematik LISN yang telah kita pelajari di atas merupakan rangkaian inti sebuah LISN. Namun produk LISN yang ada di pasaran memiliki rangkaian yang lebih kompleks, misal NNB 1600 produksi TTi. Artikel ini membedah isi NNB 1600.

Sedangkan gambar di bawah ini adalah skematik rangkaian LISN NNB 41. Terlihat bahwa selain komponen inti, terdapat juga coupling board, attenuator 10dB, artificial earth, remote control, dan amplitude limiter 130dBuV.

  1. Coupling board tersebut merupakan high pass filter dengan frekuensi cut-off 8107Hz. HPF ini akan lebih jauh meredam komponen frekuensi catu 50Hz.
  2. Attenuator 10dB berfungsi untuk meningkatkan impedance matching antara LISN-coupling board dan instrumen pengukur.
  3. Amplitude limiter berfungsi untuk clamp (membatasi) tegangan yang melebihi 130dBuV, sehingga instrumen pengukur dapat terproteksi. Dalam keadaan normal, amplitude limiter ini bersifat transparan. Hanya bekerja saat ada lonjakan tegangan. Biasanya terjadi saat memasang dan mencabut kabel daya LISN.
  4. Artificial earth berfungsi untuk mensimulasikan manusia yang memegang bor listrik. Digunakan pada pengujian bor listrik.
  5. Remote control berfungsi untuk memindahkan pengukuran L-E atau N-E dari jarak jauh, alih-alih menekan tombol yang ada pada LISN.

NNB41-1NNB41-2

 

Bayar Pajak Motor di SAMSAT Keliling ITC BSD

Ceritanya kemarin (Sabtu) saya mau bayar pajak motor. Seperti biasa, saya bayar pajak motor selalu di SAMSAT BSD yang dekat ITC BSD. Namun hari itu saya datang terlalu siang. Sampai di SAMSAT jam 11 lewat. Ternyata loket pendaftaran sudah ditutup 😦

Lalu saya tanya ke salah satu grup WA kantor apakah ada tempat lain untuk bayar pajak motor. Ternyata ada. Yaitu di SAMSAT Keliling yang mangkal di parkiran motor ITC BSD.

Kata petugasnya SAMSAT Keliling ini sudah beroperasi 5 bulan di ITC BSD, dan belum ada rencana untuk pindah.

Jam operasionalnya:

Senin-sabtu 16.00-19.00
Minggu 11.00-14.00

Kemarin saya datang pas ngga ada antrian, 5 menit sudah selesai!

IMG_20190216_174458278

** Di belakangnya SAMSAT Keliling itu mobil SIM Keliling. Cuma saya ngga tanya jam operasional nya..

 

Mengurus SHGB menjadi SHM di Kabupaten Tangerang

img_20190123_083745499[1]

Artikel kali ini ditulis untuk sharing pengalaman sekaligus apresiasi terhadap pelayanan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang yang sangat baik. Saya mengurus Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB, atau disingkat HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) secara mandiri tanpa menggunakan jasa notaris. Kalau pakai jasa notaris, harganya mungkin sampai sejuta atau lebih. Kalau bisa meluangkan waktu untuk mengurus sendiri, harganya jauh lebih murah. Prosesnya mudah dan cepat.

Kantor BPN Kabupaten Tangerang berlokasi di Tigaraksa. Kantor BPN ini berada di dalam kawasan kantor pemerintahan Kabupaten Tangerang. Kebetulan selain ke kantor BPN, saya juga mengurus dokumen di Kantor Disdukcapil. Jadi sekalian deh…

Tanggal 22 Januari 2019 saya datang ke kantor BPN. Saya tiba jam 09.00. Begitu buka pintu kaca, mata saya scanning isi sekeliling ruangan. Saat itu masih sepi. Hanya ada satu dua orang pengunjung. Layout ruangan cukup modern dengan sederet counter yang bernomer. Ruangan adem, nyaman, dan harum layaknya bank. Dekat pintu masuk ada bapak petugas yang jaga mesin antrian. Saya kasih tau keperluan saya untuk mengurus HGB menjadi SHM. Lalu si bapak dengan fasihnya menyebutkan syarat-syarat dokumen satu per satu. Sudah di luar kepala, pasti sudah biasa menghadapi orang yang mengurus HGB ke SHM. Saya lupa mencatat apa saja dokumen yang diperlukan, tapi seingat saya ini:

  1. Sertifikat HGB asli
  2. IMB dan fotocopy (IMB biasanya diberikan oleh developer)
  3. KTP asli dan fotocopy
  4. Bukti pembayaran PBB terakhir. Ingat bukan hanya lembar tagihan PBB yang warna ungu itu ya. Tapi juga bukti pembayaran yang dicetak oleh bank atau Alfamart saat kita melakukan pembayaran
  5. Materai 6000 satu lembar
  6. Untuk jaga-jaga jika ditanyakan, mungkin bawa juga Akta Jual Beli dan Kartu Keluarga

Setelah diperiksa kelengkapan dokumen, langsung diarahkan ke salah satu counter. Petugas di counter lakukan verifikasi dokumen-dokumen tersebut. Setelah itu, saya diberikan map dan formulir yang perlu diisi.  Nah agak gampang-gampang susah isi formulirnya karena ada isian nomer yang mengacu ke sertifikat. Untungnya si bapak yang jaga mesin antrian tersebut datang dan menawarkan bantuan mengisi formulir tersebut. 5 menit sudah selesai diisi. Kemudian saya dikasih nomer antrian. Saat itu nomer saya yang terdepan, jadi saya langsung ke counter lagi untuk menyerahkan map dan formulir yang telah diisi. Setelah itu saya diberikan lembar billing membayar sebesar Rp. 50.000. Pembayaran dilakukan di loket pembayaran dalam ruangan yang sama. Saat itu saya membayar menggunakan kartu Debit Mandiri. Di loket sudah tersedia mesin EDC, jadi tinggal gesek dan masukkan kode billing. Ini dibantu oleh petugas loket. Setelahnya, petugas memberikan bukti pembayaran yang saya serahkan ke counter sebelumnya. Kemudian petugas counter memberikan lembar tanda terima, yang akan ditunjukkan pada waktu pengambilan sertifikat. Petugas memberi tahu bahwa sertifikat akan selesai sekitar jam 3 sore. Tapi saya memutuskan untuk mengambil besok paginya saja.

Besok pagi saya tiba di kantor BPN sekitar pukul 08.30, dan memasukkan lembar tanda terima ke loket pengambilan. Setengah jam kemudian, nama saya dipanggil. Petugas minta saya tunjukkan KTP untuk memastikan benar-benar saya adalah pemilik sertifikat yang akan diambil. Jadi jangan lupa bawa KTP ya. 

Petugas kemudian menyodorkan sebuah sertifikat yang adalah SHM sayaaaaa.. 🙂 Petugasnya menjelaskan dengan pelan-pelan bahwa SHGB sudah diubah jadi SHM. Di situ saya baru tahu bahwa Sertifikatnya masih sama. Hanya tulisan HAK GUNA BANGUNAN dicoret dan diganti HAK MILIK. Nomer sertifikat juga dicoret dan ditambahkan nomer yang baru. HGB sudah jadi SHM.. Legaaaaa…!

img_20190123_083823720[1]

img_20190123_084358300[1]
Tersedia juga counter untuk disabilitas

ESP8266 painlessMesh Topology Visualizer in Python

A few months ago I have been experimenting with the ESP8266 painlessMesh network. The library provides a JSON string of the formed mesh topology, for example it looks like this:

[
    {
        "nodeId" : 2147321731,
        "subs" : [
            {
                "nodeId" : 2147319552,
                "subs" : [
                ]
            }
        ]
    },
    {
        "nodeId" : 2142436483,
        "subs" : [
            {
                "nodeId" : 2787708644,
                "subs" : [
                ]
            }
        ]
    },
    {
        "nodeId" : 2142436495,
        "subs" : [
            {
                "nodeId" : 2787708676,
                "subs" : [
                    {
                        "nodeId" : 2142436497,
                        "subs" : [
                        ]
                    },
                    {
                        "nodeId" : 2787708620,
                        "subs" : [
                        ]
                    }
                ]
            }
        ]
    }
]

At some points I think it would be very nice if I can immediately see how the mesh topology looks like. So I decide to write a simple GUI application that can visualize the mesh topology. For a rapid development I go for Python. I have not much prior experience in Python programming, and would like to use a nice and free IDE. I found one and really enjoyed using it. It is called PyCharm (v. 2017.2.3). It has editor, project viewer, debugger, runner, version control, etc. So it is quite a comprehensive IDE.

These videos demonstrate how the visualizer works:

Basically, the visualizer receives MeshTopology strings sent by a ESP8266 on serial port. The visualizer then parse the strings, build NetworkX graph, and draw the graph.  Graph drawing is based on the NetworkX (v.2.0) library. However, to make it work in this application, a little modification is made on the file networkx/drawing/nx_pylab.py. nx_pylab.py has a function called draw(). By default, draw() returns nothing. But to make it work in this application, I modify the draw() function to return cf (figure reference), node_collection.

return cf, node_collection

Higher version of NetworkX most likely will not work because the drawing function is discarded. NetworkX drawing functions depend on Qt5 library. So you need to install PyQt library as well.

Before running the codes, ensure the correct serial port number is provided matching to your setup. The line is in file top.py, function setupUi(self, MainWindow):

# init and open serial port
# SET COMxx to the corresponding serial port number used by the ESP
comPortNum ='COM31'<span data-mce-type="bookmark" id="mce_SELREST_start" data-mce-style="overflow:hidden;line-height:0" style="overflow:hidden;line-height:0;">&#65279;</span>

As you can see from the videos above, some of the application features are:

  • Visualize mesh topology. The figure is updated whenever the topology has changed. The draw() function distributes the node position based on some sort of random statistical formula, which results in most likely different node position every time the graph is updated
  • A click on node ‘Me’ will pop up ‘broadcast’ dialog box. Through this dialog, we can set parameters all of nodes.
  • A click on nodes other than ‘Me’ will pop up ‘single’ dialog box. We can set and read parameters on that particular node

On the ESP8266 side, the library painlessMesh v.1.0.1 is used. The ESP8266 regularly sends the MeshTopology to serial port. It can interpret commands from the visualizer application, such as:

  • Reading the node available heap memory
  • Forwarding messages to a single node
  • Forwarding messages to all nodes
  • Set and read parameters (i.e. ‘timer’ and ‘brightness’)

The Python mesh visualizer source codes are available at:

https://github.com/yoppy-tjhin/meshTopologyVisualizer

The app is started from main_window.py. It then loads a window from top.py. The top.py orchestrates all other functions, such as Serial thread, parsing MeshTopology, drawing graphs, etc.

And the Arduino ESP8266 painlessMesh codes can be found at:

https://github.com/yoppy-tjhin/espMesh

The following video shows a demo  of 10-node ESP8266 painlessMesh network:

Mengurus Visa Taiwan (Kedua Kalinya)

Tahun 2016 pertama kali saya mengurus visa Taiwan, seperti yang  pernah saya tuliskan di sini. Tahun 2018 ini saya akan berkunjung kembali ke Taiwan, dan saya mengurus visa secara mandiri lagi. Tapi kali ini, saya juga sekalian mengurus 3 visa keluarga saya.

Informasi tentang visa Taiwan bisa dilihat di sini.  Apa saja persyaratan yang harus disiapkan untuk membuat visa turis bisa dilihat di sini. Untuk pegawai, perlu menyertakan surat keterangan kerja dari kantor. Namun, dua anggota keluarga saya bukan pegawai kantor, tapi buka usaha sendiri. Jadi saya membawa SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) mereka, dan ternyata dokumen ini memang diminta untuk disertakan. Sedangkan untuk booking tiket pesawat dan hotel tidak diminta, dan memang tidak tertulis dalam list persyaratan di atas.

Jam buka pendaftaran visa di kantor TETO adalah 08.30. Waktu itu saya datang hari Senin, tiba jam segituan, dan tidak ada antrian. Segera setelah dokumen diserahkan dan biaya dibayarkan, saya langsung pulang. Mungkin cuma 5-10 menit di kantor TETO. Kata petugasnya, hari Rabu (berarti 3 hari kerja ya) visa sudah bisa diambil. Hanya saja saya baru sempat datang hari Kamis. Untuk jadwal pengambilan, mulai buka jam 13.30.

Tak lupa, sebelum meninggalkan TETO, saya keluarkan handphone, buka app kamera, dan jepret…

IMG_20180604_085945544

(Terlihat ramai saudara-saudara kita yang akan bekerja sebagai TKI).

 

 

Scan and remove viruses using Clamav in Ubuntu

Recently my USB drive got infected. The virus duplicates existing files, but with an .exe extension. All of them are of 411,something kB in size. Later, this is scanned and identified as Trojan virus.

A short googling shows that clamav is a popular antivirus in Ubuntu, Linux in general. Without further ado, I then proceed to sudo apt-install clamav. The version 0.99 is installed. Before scanning, first we need to update the virus databases. The sudo freschclam command,  which is used to accomplish the job, doesn’t work. Maybe I haven’t tried hard enough. But some people suggest that it might be due to old version problem. So then I decide to uninstall clamav 0.99, and reinstall to the new version 0.100.0.

This time I install the clamav from the sources. I am fully aware that is not the only way to get clamav working nor a comprehensive and thorough tutorial. But here I am just showing the steps I have taken which leads me to a success. Oh btw, my OS is Ubuntu 16.04.

  1. sudo apt-get remove clamav (uninstall the existing clamav)
  2. sudo apt-get autoremove (uninstall dependencies, just to make sure they don’t mix up with the new version and cause problems)
  3. Download the source from https://www.clamav.net/downloads/production/clamav-0.100.0.tar.gz. This is version 0.100.0.
  4. Then go to the containing directory, and unzip it.
  5. ./configure (for checking dependencies and prepare some other stuff before compilation). Fail at this stage due to missing openssl library
  6. sudo apt-get install libssl-dev
  7. ./configure (again)
  8. sudo make (building the executable from sources. Might take some time to finish)
  9. sudo make install (installing all the files built from previous step to the appropriate directories)
  10. sudo freshclam (to download the virus databases). But fail at this stage because unable to parse the freshclam.conf. Actually it does not exist yet, but the example configuration file is provided.
  11. cd /usr/local/etc/ (go to the directory containing example conf file)
  12. sudo cp freshclam.conf.sample freshclam.conf
  13. sudo nano freshclam.conf (edit the file)
  14. Comment out the word ‘Example’ and save it
    # Comment or remove the line below.
    #Example
  15. sudo freshclam (again. it works now. take some time to download the databases)
  16. sudo clamscan -r -i –move=/home/yoppy/virus /media/yoppy/USB-drive-path
    -r is for recursive scanning. -i for showing detected scan only. Now we are ready to scan dan move the virus to another folder. And, delete it afterward. We can also delete the virus immediately with –remove option

clamscan virus detected

 

Programming ESP8266 using Visual Studio Code with Arduino Extension

So now I have used the official Arduino IDE for some time to program the ESP8266. It is a convenient and quick-to-get-started method (check here). But recently I plan to write an application that I feel it would be uncomfortable to write codes using the limited features of Arduino IDE. I find particularly two feature-rich IDEs out there, which are free and highly recommended by communities, namely Atom and Visual Studio Code. With Atom, we need to add the PlatformIO extension for programming embedded systems, including the ESP8266. While with VS Code, we need to install either PlatformIO or Arduino extension.

I had difficulties to get both Atom-PlatformIO and VS Code-PlatformIO working. Somehow the PlatformIO installation was not able to complete. I suspected it was caused by my office internet proxy. I spent quite some time to solve it but did not succeed, so I abandoned it and tried the Arduino extension.

Getting the VS Code with Arduino extension working was not that straight forward either. If you search for the Arduino extension, you will find two choices, either developed by Microsoft or Steve Yin. Initially I chose the one developed by Microsoft. Well, Arduino extension is just an extension that allows users to tell the VS Code where the tools for compiling and uploading code reside. So we must have the official Arduino IDE installed because its tools for compiling and uploading will be used by the VS Code. Then we need to specify the Arduino IDE path in the VS Code ‘User Settings’. Btw, my OS was Windows 8, and I installed the official Arduino IDE version 1.8.2. For unknown reasons compiling sketch using VS Code was always fail with a message saying ‘[Error] Exit with code=undefined’. Actually, I also had an Ubuntu machine, and I managed to get the Arduino extension working. I could compile and upload codes to the ESP8266. But for some reasons, I still preferred to work on my Windows 8 machine.

So, then I gave the Steve Yin’s Arduino extension a try on my Win 8. The compile and upload options in User Settings were more complicated than those of Microsoft one.  But happily I succeeded to compile and write bits of codes to the ESP8266 flash memory. The easiest way to specify the compile and upload options is by adapting them from the command list spat out from the Arduino IDE console output. Again, you can follow this instruction to program ESP8266 using Arduino IDE.

arduino ide compile - for vs code arduino ext

Here is my VS Code ‘User Settings’:

"arduino.uploader" : "C:\\Users\\User-pc\\AppData\\Local\\Arduino15\\packages\\esp8266\\tools\\esptool\\0.4.9\\esptool.exe",
"arduino.uploadOptions": "-vv -cd nodemcu -cb 921600 -cp COM12 -ca 0x00000 -cf $TARGET.bin",
"arduino.compileOptions": "-compile -logger=machine -hardware D:/Master/arduino-1.8.2/hardware -hardware C:/Users/User-pc/AppData/Local/Arduino15/packages -tools D:/Master/arduino-1.8.2/tools-builder -tools D:/Master/arduino-1.8.2/hardware/tools/avr -tools C:/Users/User-pc/AppData/Local/Arduino15/packages -built-in-libraries D:/Master/arduino-1.8.2/libraries -libraries C:/Users/User-pc/Documents/Arduino/libraries -fqbn=esp8266:esp8266:nodemcuv2:CpuFrequency=80,UploadSpeed=115200,FlashSize=4M3M -vid-pid=0X2341_0X0043 -ide-version=10802 -warnings=none -prefs=build.warn_data_percentage=75 -prefs=runtime.tools.esptool.path=C:/Users/User-pc/AppData/Local/Arduino15/packages/esp8266/tools/esptool/0.4.9 -prefs=runtime.tools.xtensa-lx106-elf-gcc.path=C:/Users/User-pc/AppData/Local/Arduino15/packages/esp8266/tools/xtensa-lx106-elf-gcc/1.20.0-26-gb404fb9-2 -prefs=runtime.tools.mkspiffs.path=C:/Users/User-pc/AppData/Local/Arduino15/packages/esp8266/tools/mkspiffs/0.1.2 -verbose",
In the “arduino.compileOptions” I omitted the built-path and built-cache options since they caused compiling to fail. The Arduino extension had its own built-cache which worked fine. I had not looked further for the meaning of the other options. They might be fine to be deleted. However they seems didn’t do any harm, by now I just leave it there.
In the “arduino.uploadOptions” we could set the COM port and upload speed. By default, the upload speed is 115200, which was quite slow. I found it somewhere that says we can increase the speed by a factor of 8, so it becomes 921600. It was indeed much faster. But the reference I read also says that this high speed can sometimes be unstable. So, bear this in mind. I did try other higher baud rates: 1500000, 1843200, 2000000. However the uploading time took longer than that of 921600.
vs code arduino ext compile
Initially I thought installing these tools for programming ESP8266 would be just some clicks away. But in fact I had spent a lot of time to get it done properly. I hope you have a nice and smooth installation. In case you face the same problem, hope my experience would help.
Happy coding!

Asal-usul kata pulsa pada ponsel

cellphone

Pagi ini sebelum mandi sempat terpikir bagaimana sebenarnya asal usul kata ‘pulsa’ pada ponsel. Hari ini pulsa pada ponsel berarti saldo yang bisa digunakan untuk telepon, sms, maupun streaming data. Menurut KBBI, salah satu arti kata pulsa adalah satuan dalam perhitungan biaya telepon. Pulsa, yang berasal dari bahasa Inggris pulse, memiliki arti asli: denyut atau detak.

Kalau ditanya ‘Kamu punya pulsa ngga?’, dalam sepersekian detik kita bisa langsung mengerti maksudnya. Tapi kalau pertanyaan yang sama diterjemahkan dalam bahasa Inggris ‘Do you have pulses?’, kita membutuhkan beberapa waktu untuk mengerti maksudnya. Yang terjadi dalam pikiran saya kira-kira begini:

“Hah? Dia tanya apakah saya punya denyutan? Apakah saya masih hidup? Tidak masuk akal. Pasti bukan itu maksudnya. Hmmmm, apalagi ya arti pulse yang lain nya? Oh mungkin maksudnya apakah saya punya pulsa untuk telepon. Tapi saya masih perlu bertanya balik untuk konfirmasi apakah benar maksudnya seperti itu.”

Pertanyaan di atas dijamin tidak akan dimengerti oleh orang selain orang Indonesia. Mengapa? Karena makna pulsa telah bergeser sedemikian jauh dari arti dasarnya sampai tidak ada hubungan nya lagi: dari denyut menjadi satuan biaya telepon. Lalu bagaimana perubahan ini terjadi?

Dulu zaman belum ada ponsel, dan di rumah saya belum ada sambungan telepon, malam-malam di atas jam 9 saya sering ikut ibu ke wartel di Nanga Pinoh untuk menelepon tante saya di Pontianak. Saya perhatikan display total biaya telepon nya akan bertambah setiap beberapa detik tertentu. Misalnya tiap 20 detik akan bertambah Rp.1.000,-. Interval ini berbeda-beda untuk setiap kota tujuan. Kalau tidak salah ingat (tercantum dalam struk), tiap interval inilah yang disebut pulsa. Jadi total biaya telepon adalah jumlah pulsa dikali dengan biaya per pulsa.

Ketika awal-awal ponsel GSM mulai populer, untuk menelepon dengan kartu prabayar kita harus mengisi ‘pulsa’ menggunakan voucher fisik yang digosok. Seingat saya, pulsa yang diisikan adalah dalam satuan rupiah. Mungkin karena waktu itu belum ada kata yang bisa dipakai untuk merujuk ke arti saldo telepon tersebut, jadi paling mudah dipakailah kata ‘pulsa’ yang sudah ada. Walaupun agak-agak kurang nyambung juga sih 🙂

Saya tidak tau apakah pernah pada awalnya pengisian pulsa tersebut dihitung literally dalam satuan pulsa (seperti halnya menelepon di wartel), dan bukan rupiah. Kalau betul begitu, maka sangat bisa dipahami mengapa kata pulsa terbawa sampai sekarang.

Entahlah kebenarannya. Begitulah kira-kira yang terpikir tadi pagi sebelum mandi